PENINGKATAN AKTIVITAS BELAJAR PKn MATERI PEMERINTAHAN PUSAT PADA KELAS 4 SEMESTER II SDN 1 KAPONGAN KECAMATAN KAPONGAN KABUPATEN SITUBONDO TAHUN PELAJARAN 2017 / 2018 DENGAN PENDEKATAN CONTEKSTUAL TEACHING LEARNING ( CTL )
Abstract
Pendidikan kewarganegaraan dalam pengertian sebagai citizenship education, secara substantif dan pedagogis didesain untuk mengembangkan warga negara yang cerdas dan baik untuk seluruh jalur dan jenjang pendidikan. Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) merupakan program pendidikan berdasarkan nilai-nilai pancasila sebagai wahana untuk mengembangkan dan melestarikan nilai luhur dan moral yang berakar pada budaya bangsa Indonesia yang diharapkan dapat menjadi jati diri yang diwujudkan dalam bentuk perilaku dalam kehidupan sehari-hari peserta didik baik sebagai individu, sebagai anggota masyarakat dan makhluk ciptaan tuhan Yang Maha Esa. hasil observasi awal di SDN 1 Kapongan, terlihat bahwa situasi belajar mengajar masih menggunakan metode lama yakni Ceramah, hal ini menyebabkan pengajaran yang berpusat pada guru sehingga prestasi belajar siswa pada mata pelajaran PKn di SDN 1 Kapongan masih rendah dan menunjukkan nilai yang masih di bawah Standar Ketuntasan Belajar Minimal (SKBM=70). Sistem pengajaran yang baik seharusnya dapat membantu siswa mengembangkan diri secara optimal serta mampu mencapai tujuan-tujuan belajarnya. Dari hal tersebut perlu dicarikan alternatif lain untuk meningkatkan hasil belajar PKn siswa pada materi peranan globalisasi. Hal ini mengingat pentingnya pengajaran PKn untuk membentuk karakter siswa tingkat Sekolah Dasar, sehingga dipilihlah pendekatan CTL yang diharapkan dapat meningkatkan minat dan motivasi siswa dalam pembelajaran PKn pada materi peranan globalisasi. Selain itu penerapan CTL menekankan keaktifan siswa dalam pembelajaran sehingga merangsang kemampuan berfikir yang diharapkan dapat meningkatkan prestasi belajar siswa pada pembelajaran PKn pada materi peranan globalisasi.Hasil pembelajaran pembelajaran PKn siswa pada siklus I diketahui jumlah nilai rata-rata yang diperoleh adalah 69.75 dari dua puluh siswa, yang mendapat nilai di atas KKM berjumlah sepuluh orang, dan sisanya masih banyak siswa yang mendapatkan nilai rendah. Hal ini berarti bahwa nilai pembelajaran PKn siswa 50 masih di bawah KKM yang ditetapkan, yaitu 70. Pada Pembelajaran PKn siswa pada siklus II diketahui jumlah nilai rata-rata yang diperoleh adalah 77.75 dari dua puluh siswa, yang mendapat nilai di atas KKM berjumlah enam belas orang, sisanya masih mendapatkan nilai di bawah KKM. Hal ini berarti bahwa nilai pembelajaran PKn siswa 80 sudah di atas KKM yang ditetapkan, yaitu 70.